Toleransi sudah mentradisi di kerajaan Lombok. Raja Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem (1870-1894)

 Pantau Terkini Bali Denpasar 7 Februari 2022.

Sejak tahun 1740,daerah Lombok di kuasai oleh kerajaan Karangasem,dan toleransi telah di terapkan sejak saat itu.

Salah satu tokoh Toleransi adalah  Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem Raja lombok periode 1870-1894.

Penduduk lombok mayoritas dari suku sasak beragama  Islam,di susul orang Bali beragama Hindu,orang Makasar beragama Islam,orang Tionghoa beragama Budha,Tao dan Kong hu chu,orang Arab beragama Islam dan juga orang eropa beragam Kristen dan Katolik.

Raja saat itu menikahi wanita sasak bernama Dinda Aminah yang justru di persilahkan untuk melanjutkan keyakinan Islam nya selama menjadi istri Raja. Lewat pernikahan silang ini,Raja menerapkan sistem keseimbangan dalam masyarakatnya. Dengan berdampingnya budaya dan agama yang berbeda akan melahirkan Toleransi.

Raja memberi otonomi daerah dan multikulturalisme pada masyarakat Lombok.

Beliau mengangkat seorang keturunan Arab,Said Abdullah sebagai penasihat politik kerajaan sekaligus kepala pelabuhan Ampenan.

Beliau sang Raja membangun masjid di Ampenan untuk  memberikan bantuan kepada orang-orang sasak yang naik Haji ke Mekkah.

Selain itu Raja juga membuka perwakilan di Jedah yang di pimpin oleh Haji Majid agar rakyat lombok mendapat kemudahan dalam menunaikan ibadah haji.

Bila mereka kembali dari Mekkah,Raja mengangkat mereka untuk menjadi penghulu agama dan di berikan "tanah pecatu"(tanah jabatan),salah satunya Haji Mohamad Ali yang disebut sebagai "guru bangkol"yaitu guru agama dari tokoh-tokoh adat.

Kebijakan Raja ini membuat masyarakat lombok menjadi harmonis,saling mengerti satu sama lain,ini cerminan masyarakat multikultural yang di dasari atas kebijakan politik penguasa dan kesadaran masyarakatnya tanpa memandang suku,agama dan kepercayaan.

Nasib malang menimpa Raja ketika Belanda mengadakan perlawanan dan menawan Raja lombok serta di asingkan ke Batavia ( Jakarta ) hingga beliau meninggal disana pada tahun 1894.

Begitulah kisah yang terlontarkan dari bibir cucu Raja Karangasem,putra bungsu Bupati Karangasem, Anak Agung Made Jelantik Karang yang biasa di panggil Gung Ade ini,yang juga musisi kreatif,ketua Komunitas Prog.world united artists,seorang penulis lagu,penulis buku dan gemar mempelajari sejarah,spiritual dan filisofi.

Pewarta berkomentar sekaligus bertanya : Toleransi yang di terapkan oleh Raja lombok ini sepertinya terwariskan ke gung ade ini dalam memimpin Komunitas Prog,world dimana berbagai macam genre music bisa tampil dalam satu acara,musisi nya multikultural dan mereka berasal dari berbagai macam suku bangsa dan dari semua umur,apakah sang raja lombok ber-reinkarnasi ke gung ade ? Nah untuk menjawab ini,saya jadi teringat oleh almarhum ayah saya,suatu hari saya bertanya ; "Papi (panggilan saya ke ayah) dulu sewaktu saya lahir kan juga di upacarai tentang siapa yang numitis (reinkarnasi)ke diri saya ?" Ayahku menjawab : "Raja lombok yang meninggal di batavia".

Nah mengingat The Rolling Stones Community dari jakarta yang ingin ke bali,bagaimana jika terjadi kerjasama event dengan Prog.world dan pertunjukannya mengambil lokasi di Puri Karangasem bertemakan Raja Karangasem dan lombok yang sangat toleran ? Sambung pewarta. Nah untuk itu harus di rundingkan bersama keluarga besar Puri,niscaya ada jalan bila visi dan misi nya mengangkat sejarah kebudayaan luhur pendahulu kita,jawab gung ade.

Demikianlah wawancara hari minggu tanggal 6 februari 2022 bersama gung ade di kediamannya jln jepun kuning,perum jepun kuning no.4 denpasar. Dan diskusi tentang sejarah para leluhur di jaman Raja-Raja untuk semakin diketahui para Generasi Muda bahwa betapa Toleransi antar umat beragama telah ditanamkan agar terjadi keharmonisan dalam kehidupan masyarakat seperti sebuah PELANGI yang indah justru karena berwarna warni. 

panterbali-UQ



Post a Comment

0 Comments