SEJARAH KERAJAAN KARANG ASEM DAN RAJA SUDAH MENGAJARKAN HIDUP BERTOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA SEJAK DAHULU KALA SAMPAI SAAT INI.

 Pada tgl 6 Mei 2021 jam 14.00 wita di Kediaman salah satu cucu dari Raja Karang Asem terakhir (Anak Agung Agung Anglurah Ktut Karang Asem) yaitu Anak Agung Made Jelantik Karang yang dikenal dengan nama Ade Karang pimpinan Progworld. Beliau nenceritakan secara garis besar tentang Sejarah KERAJAAN KARANGASEM.

 Asal Nama Karangasem

Nama Karangasem sebenarnya berasal dari kata Karang Semadi. Beberapa catatan yang memuat asal-muasal nama karangasem adalah seperti Wawasan dalam Prasasti Sading C yang terdapat di Geria Mandara, Munggu, Badung. Lebih lanjut Proposal bahwa Gunung Lempuyang di timur laut Amlapura, pada mulanya dengan nama Adri Karang yang berarti Gunung Karang.


Pada prasasti tersebut diceritakan, bahwa pada tahun 1072 Saka, tanggal 12 bulan separo terang, Wuku Julungwangi di bulan Cetra, Bathara Guru menitahkan salah satu puteranya Sri Maharaja Jayasakti atau Hyang Agnijaya untuk turun ke Bali. Tugas yang diemban seperti dikutip dalam prasasti berbunyi ”... gumawyeana Dharma rikang Adri Karang maka kerahayuan ing Jagat Bangsul ...”, yang artinya ”datang ke Adri Karang membuat Pura (Dharma) untuk memberikan keselamatan lahir-batin bagi Pulau Dewata”.

Hyang Agnijaya diceritakan datang bersama dengan saudara-saudaranya yaitu Sambhu, Brahma, Indra, dan Wisnu di Adri Karang (Gunung Lempuyang di sebelah timur laut kota Amlapura). Gunung Lempuyang dipilih Bathara Guru sebagai tempat untuk memberlakukan kasih-Nya bagi keselamatan umat manusia.

Dalam penelitian sejarah keberadaan pura, Lempuyang ditempatkan dengan kata lampu yang artinya terpilih, dan Hyang yang berarti Tuhan (Bathara Guru, Hyang Parameswara). Di Adri Karang inilah Hyang Agnijaya menjadikan Pura Lempuyang Luhur sebagai tempat bersemadi (Karang Semadi). Lambat laun name Karang Semadi ini berubah menjadi Karangasem.

Berdirinya Kerajaan Karangasem

Pada abad ke-16 sampai abad ke-17, Karangasem berada di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, dengan rajanya I Dewa Karangamla yang berkedudukan di Selagumi (Balepundk). I Dewa Karangamla menikahi janda I Gusti Arya Batanjeruk, patih kerajaan yang melakukan pemberontakan di Desa Bungaya, dengan syarat bahwa setelah pernikahan, kelak anak dari janda Batanjeruklah yang menjadi penguasa. Syarat ini disetujui dan kemudian keluarga I Dewa Karangamla berpindah dari Selagumi ke Batuaya. I Dewa Karangamla juga mempunyai putra dari istrinya yang lain bernama I Dewa Gde Batuaya. Penyerahan kekuasaan kepada putra dari janda Batanjeruk inilah yang menandai awal mula berdirinya Kerajaan Karangasem yang dipegang oleh Dinasti Batanjeruk [2].

Penaklukan Buleleng dan Lombok serta Penaklukkan Karangasem oleh Belanda Sunting

Artikel utama: Intervensi Belanda di Lombok dan Karangasem

Para pemimpin yang terlibat dalam perang di Lombok tahun 1894: Anak Agung Ketut Karangasem, Walikota Jenderal PPH van Ham, [3] Walikota Jenderal JA Vetter (komandan), [3] Residen MC Dannenbargh, dan Gusti Gede Jelantik.

Gusti Gede Jelantik dan putranya, Gusti Bagus Jelantik, di Puri Agung Karangasem (sekitar tahun 1900-an).

Setelah Raja I Gusti Anglurah Ketut Karangasem wafat, pemerintahan Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Gede Karangasem (Dewata di Tohpati) antara tahun 1801-1806. Pada saat itu wilayah Kerajaan Karangasem semakin besar yang meluaskan kekuasaannya sampai ke Buleleng dan Jembrana.[2] Setelah wafat, I Gusti Gede Ngurah Karangasem disimpan oleh putranya bernama I Gusti Lanang Peguyangan yang juga dikenal dengan nama I Gusti Gede Lanang Karangasem.

Kemenangan Kerajaan Buleleng melawan kekuasaan Kerajaan Karangasem menyebabkan raja Karangasem, I Gusti Lanang Peguyangan, menyingkir dan saat itu Kerajaan Karangasem berbalik dikuasai oleh raja Buleleng, I Dewa Pahang. Kekuasaan akhirnya dapat direbut kembali oleh I Gusti Lanang Peguyangan.Pemberontakan seorang punggawa kerajaan yang bernama I Gusti Bagus Karang pada tahun 1827 berhasil menggulingkan I Gusti Lanang Peguyangan sehingga melarikan diri ke Lombok, dan tahta Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Bagus Karang.

I Gusti Ngurah Made Karangasem berhasil menaklukan Karangasem dan mengangkat menantunya I Gusti Gede Cotong menjadi raja Karangasem. [2]Setelah I Gusti Gede Cotong terbunuh akibat perebutan kekuasaan, tahta Karangasem menunjukkan oleh saudara sepupu raja Buleleng yaitu I Gusti Ngurah Gede Karangasem. [2]

Kelompok-kelompok bangsawan Bali dari Kerajaan Karangasem kemudian mulai menguasai bagian barat Pulau Lombok. Salah satu dari mereka, kelompok yaitu Bali-Mataram, berhasil menguasai lebih banyak kelompok asal Bali lainnya, dan bahkan pada akhirnya menguasai total pulau ini pada tahun 1839. [3] [4] [5]Sejak saat itu kebudayaan istana Bali juga turut berkembang di Lombok. [4]

Pada tanggal 25 Agustus 1891, putra penguasa Bali-Mataram yaitu Anak Agung Ketut Karangasem dikirim, beserta 8.000 orang tentara, untuk menumpas pemberontakan di Praya, yang termasuk wilayah Kerajaan Selaparang. Pada tanggal 8 September 1891, pasukan kedua, di bawah putra lainnya, Anak Agung Made Karangasem, yang berkekuatan 3.000 orang dikirimkan sebagai pasukan tambahan. [3] Karena tentara kerajaan tampak dalam kesulitan untuk mengatasi keadaan, membantu lagi penguasa bawahan Karangasem, yaitu Anak Agung Gede Jelantik, untuk mengirim 1.200 orang pasukan elit untuk menuntaskan pemberontakan. [3]Perang berkecamuk berkepanjangan sejak 1891 hingga 1894, dan tentara Bali-Mataram yang lebih canggih persenjataannya dilengkapi dengan dua kapal perang modern, Sri Mataram dan Sri Cakra,

Pada tanggal 8 November 1894, Belanda secara sistematis menembakkan ke arah pasukan Bali di Cakranegara, sehingga menghancurkan istana, menewaskan sekitar 2.000 orang Bali, sementara mereka sendiri kehilangan 166 orang. [5] Pada akhir November 1894, Belanda telah berhasil mengalahkan semua perlawanan Bali, dengan ribuan orang Bali menjadi korban bunuh diri, menyerah, atau melakukan ritual puputan [4]. Lombok dan Karangasem selanjutnya menjadi bagian dari Hindia Belanda, dan pemerintahan dijalankan dari Bali [4]. Gusti Gede Jelantik diangkat sebagai Regent oleh Belanda pada tahun 1894, dan ia memerintah hingga tahun 1908. 

Masa Kolonial 

Zaman Pendudukan Belanda

Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem saat menerima kunjungan Gubernur Jenderal Dirk Fock pada tahun 1925.

Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem bersama istrinya. Perabotan-perabotan Puri Agung Karangasem yang tampak dalam foto adalah hadiah Ratu Wilhelmina dari Belanda.

Setelah masuknya Belanda, pengaruh pengaruh pula dalam hal birokrasi pemerintahan. Pada tahun 1906 di Bali terdapat tiga macam bentuk pemerintahan yaitu:

Pemerintahan langsung) meliputi Buleleng, Jembrana, dan Lombok

Zelfbestuurend landschappen (pemerintahan sendiri) ialah Badung, Tabanan, Klungkung, dan Bangli

Stedehouder (wakil pemerintah Belanda) adalah Gianyar dan Karangasem

Demikianlah di Kerajaan Karangasem berturut-turut yang menjadi Stedehouder (penguasa) yaitu I Gusti Gede Jelantik pada tahun 1894-1908, dan Stedehouder I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem (Dewata di Maskerdam) pada tahun 1908-1950 [2 ], yang membawahi 21 Punggawa, yaitu Karangasem, Seraya, Bugbug, Ababi, Abang, Culik, Kubu, Tianyar, Pesedahan, Manggis, Antiga, Ulakan, Bebandem [7]. No. 756 tahun 1921, datang mulai tanggal 1 Januari 1922, Gouvernements Lanschap Karangasem dihapuskan, diubah menjadi daerah otonomi, langsung di bawah Pemerintahan Hindia Belanda, terbentuklah Karangasem Raad yang diketuai oleh Bupati I Gusti Bagus Jelantik, sedangkan Sekretaris dijabat oleh Controleur Karangasem.

Sebagai Bupati, I Gusti Bagus Jelantik masih mempergunakan gelar Stedehouder. Jumlah Punggawa yang sebelumnya diperkirakan 14 buah, dikurangi lagi sehingga menjadi 8 buah, yaitu: Rendang, Selat, Sidemen, Bebandem, Manggis, Karangasem, Abang, Kubu. Dengan Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda tertanggal 4 September 1928 No. 1, gelar Stedehouder diganti dengan gelar Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Dengan Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda tertanggal 30 Juni 1938 No. 1 mulai tanggal 1 Juli 1938 dia diangkat menjadi Zelfbestuur Karangasem (kepala swapraja). Bersamaan dengan terbentuknya Zelfbestuur Karangasem, mulai tanggal 1 Juli 1938 terbentuk pulalah Zelfbestuur - Zelfbestuur di seluruh Bali, yaitu Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan, Jembrana dan Buleleng,

Dalam kehidupan sosial-budaya, pengaruh pengaruh pendidikan yang didapat pada abad ke-19, banyak para pemuda intelektual di berbagai daerah di Bali yang didirikan perkumpulan-perkumpulan dan organisasi kepemudaan, keagamaan, dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1925 di Singaraja didirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Suryakanta" dan memiliki sebuah majalah yang juga diberi nama "Suryakanta". Suryakanta menginginkan agar masyarakat Bali mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan budaya yang tidak sesuai dengan zaman perkembangan. Sementara itu, di Karangasem lahir suatu perhimpunan yang bernama "Satya Samudaya Baudanda Bali-Lombok" yang anggotanya terdiri atas pegawai negeri dan masyarakat umum dengan tujuan menyimpan dan mengumpulkan uang untuk kepentingan siswa.

Masa Pendudukan Jepang.

Setelah beberapa pertempuran, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur, Badung, pada tanggal 18 dan 19 Februari 1942. Dari arah Sanur ini tentara Jepang memasuki kota Denpasar dengan tidak mengalami hambatan apa-apa. Kemudian, dari Denpasar inilah Jepang menguasai seluruh Bali, termasuk Karangasem. Pertama-tama, yang meletakkan dasar kekuasaan Jepang di Bali adalah pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Kemudian, ketika suasana sudah stabil penguasaan pemerintahan. Pada saat Jepang masuk ke Bali, Paruman Agung atau dewan raja-raja Bali diubah menjadi Sutyo Renmei [7].

Masa Kemerdekaan

Puri Agung Karangasem di kota Amlapura.

Pada tahun 1945 setelah Jepang menyerah dan kemerdekaan Republik Indonesia, Bali menjadi bagian dari Pemerintah Negara Indonesia Timur. Negara Indonesia Timur bubar dan semua wilayahnya melebur ke dalam Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950. Pemerintahan swapraja-swapraja (kerajaan) di Bali diubah menjadi Dewan Raja-Raja dengan berkedudukan di Denpasar dan diketuai oleh seorang raja. Pada bulan Oktober 1950, pemerintahan Swapraja Karangasem berbentuk Dewan Pemerintahan Karangasem yang diketuai oleh ketua Dewan Pemerintahan Harian yang dijabat oleh Kepala Swapraja (Raja) serta dibantu oleh para anggota Majelis Pemerintah Harian

Pada tahun 1951, istilah Anggota Majelis Pemerintah diganti menjadi Anggota Dewan Pemerintah Karangasem. Berdasarkan UU No. 69 tahun 1958 datang mulai tanggal 1 Desember 1958, daerah-daerah swapraja di Bali diubah menjadi Daerah Tingkat II setingkat kabupaten, termasuk Karangasem


Raja Karangasem terakhir bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ktut yang merupakan kakek dari Anak Agung Made Jelantik Karang . Sang Raja selain mengemban tugas dalam Kerajaan,beliau juga adalah Arsitekur otodidak dan Sang Raja menciptakan 2 Taman yang sampai saat ini menjadi MASKOT wisata Bali Timur yaitu TAMAN UJUNG SUKASADA yang rampung pada tahun 1921. Maskot Bali Timur yang ke 2 adalah TIRTA GANGGA, SANG RAJA terinspirasi dari konsep Tri Mandala. Kalo di India ada sungai Gangga di Bali ada Air/Tirtanya. 



Semua bangunan yang bangun oleh kakek saya merupakan sinkretisme 3 budaya yaitu Bali, Cina dan Belanda, jadi kakek saya sudah masuk jauh dalam cipta karyanya dimana budaya asing sebagai inspirasi untuk membangun sebuah bangunan yang ciri dan coraknya sangat original. 


Toleransi antar umat beragama terutama  HINDU dan MUSLIM juga semua agama sudah terjalin dan diajarkan oleh Para RAJA semenjak Kerajaan Karangasem menaklukan Lombok Barat tahun 1740 dan dalam foto tampak warga beragama muslim ikut ambil bagian memukul BENDE (semacam Gong) dalam upacara umat HINDU. Demikian pula umat Hindu juga selalu ikut ambil bagian dalam upacara2 Hari Raya besar umat Muslim. Demikian juga di Lombok dilakukan hal yang sama untuk saling menghormati antar umat beragama. Dan itu terjadi hingga saat ini. Saat acara makan bersamapun semua tukang masak adalah Ibu2 Muslim dan yang dilarang adalah Babi dan sapi sehingga semua bisa nenikmati bersama.

Toleransi dan saling menghormati antar umat beragama inilah yang sampai saat ini terjadi dan membuat kagum pewarta. Semoga menjadi hal yang baik buat kita semua seperti yang ditanamkan RAJA RAJA KARANGASEM sejak dahulu kala .

ukie panterbali


Post a Comment

0 Comments