Peran Penting Untuk Bidik Visi 'Indonesia Gold 2045" - PANTAU.CO.ID

Breaking

PANTAU.CO.ID

Berani - Tegas - Transparans

July 21, 2019

Peran Penting Untuk Bidik Visi 'Indonesia Gold 2045"

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza saat ditemui usai meresmikan
Pojok Inovasi Cassava Castle di Bandar Lampung, Lampung, Jumat (19/7/2019)
Teknologi memang tidak bisa dipisahkan dari upaya dalam menghadapi era revolusi industri 4.0, terutama untuk membidik visi 'Indonesia Emas 2045'. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza yang mengatakan teknologi memiliki peranan penting dalam meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB). 

Untuk meningkatkan PDB per kapita itu, menurutnya, peningkatan potensi yang ada di daerah tentunya juga sangat diperlukan. "Yang di daerah pasti juga diminta meningkatkan seluruh potensi daerahnya agar berkontribusi meningkat PDB lokal hingga nasional. Tapi memang pendapatan per kapita tidak banyak meningkat, berbeda dengan PDB nasional," ujar Hammam Riza, usai meresmikan Pojok Inovasi Cassava Castle, di Bandar Lampung, Lampung, Jumat (19/7/2019). Ia mengaku mendapatkan banyak informasi bahwa BPPT melalui Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) turut berkontribusi dalam pengembangan ekosistem inovasi nasional di provinsi Lampung. 

Mantan Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT itu menyebut ada banyak kegiatan yang dilakukan BPPT di kawasan tersebut. "Saya dapat masukan bahwa banyak kegiatan di Lampung, BPPT sudah menjadi bagian ekosistem inovasi nasional," jelas Hammam.

Hal itu dilakukan untuk menyalurkan penguasaan teknologi demi memberikan dampak positif bagi mereka yang membutuhkan teknologi dalam peningkatan di berbagai sektor, termasuk sektor industri pangan.


"Berusaha bisa memberi manfaat untuk salurkan penguasaan teknologi, ini dasar kami agar bisa berperan aktif untuk penyedia dan pengguna teknologi," kata Hammam. 

 Di Lampung, terdapat 74 pabrik yang mampu memproduksi tapioka hingga mencapai angka 2 ton.Kendati demikian, ketersediaan bahan baku ubi kayu atau singkong yang berada di bawah batas minimum jumlah yang dibutuhkan pabrik, membuat permasalahan sering muncul. 
Perlu diketahui, pabrik tapioka di Lampung membutuhkan bahan baku sekitar 8 juta ton untuk bisa mencapai target produksi.

Sedangkan bahan baku yang tersedia di sana saat ini berada pada angka di bawah itu, yakni sekira 6,5 hingga 7 juta ton per tahun. Menurut Hammam, permasalahan yang dialami pabrik Tapioka di Lampung tentunya bisa teratasi jika menerapkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek)

No comments:

Post a Comment

Peristiwa